Yuk, Semarakkan Festival Jamu dan Kuliner Di Jogja Cross Culture 2019

Perhelatan Jogja Cross Culture yang akan diselenggarakan di Titik 0 Kilometer Jogja selama 2 (dua) hari pada tanggal 3-4 Agustus 2019 akan memperkenalkan jamu dan kuliner nusantara ke generasi milenial.

Hari pertama agenda Jogja Cross Culture adalah menyajikan Festival Jamu dan Kuliner (JAMFEST). JAMFEST menggandeng pelaku budaya kuliner di masyarakat yang telah bergelut sebagai pelaku usaha dan juga penghayat makanan dan minuman tradisional. Mereka mewakili wilayah masing-masing yang berasal dari 14 kecamatan yang ada di Kota Yogyakarta.

Jogja Cross Culture 2019
Jogja Cross Culture 2019

Jamu sendiri berasal dari bahasa Jawa Kuno singkatan dari Djampi Oesodo. Bukti Jamu sudah ada sejak zaman dahulu bisa kita lihat di relief Candi Borobudur dan Prasasti Madhawapura. Dimana peracik jamu, era itu disebut dengan Acaraki.

Dalam Festival Jamu dan Kuliner (JAMFEST), sesama pelaku tidak dikompetisikan untuk menjual, tetapi saling menyanding untuk memberikan informasi kepada pengunjung tentang jamu dan kuliner, bahkan mereka berbagi minuman tradisional kepada pengunjung. Festival Jamu dan Kuliner (JAMFEST) menjadi ruang edukasi bagi masyarakat akan budaya dalam bentuk minuman dan makanan.

Jogja Cross Culture muncul ke ruang publik sebagai pilot project gerakan budaya hasil partnership  antara komunitas para budayawan dan seniman muda Jogja dengan Pemerintah Kota Yogyakarta. Konsep jalinan partnership ini berusaha menjalankan misi Kota Yogyakarta sebagai Kota Budaya Dunia.

Kota Yogyakarta dikukuhkan sebagai Kota Budaya ASEAN periode tahun 2018-2020 dalam Forum ASEAN Ministers Responsible for Culture and Art. Pengakuan internasional ini membuat Yogyakarta tidak lagi hanya dipandang sebagai aset budaya nasional, tetapi ditempatkan sejajar dengan kota budaya lain di dunia.

Merespon pengukuhan tersebut, maka Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta menggamit komunitas seniman-seniman muda Jogja menyusun Program Jogja Budaya. Program ini sejatinya adalah sebuah gerakan berbasis budaya dan mengusung pula semangat Gandeng Gendong yang diluncurkan oleh Pemerintah Kota Yogyakarta.

Jogja Cross Culture 2019
Jogja Cross Culture 2019

Program Jogja Budaya yang digagas oleh Wakil Walikota Yogyakarta, Drs. Heroe Purwadi, MA ini memasukkan jamu dan kuliner sebagai hasil dari pertemuan banyak budaya yang kemudian memberi warna penting bagi kuliner nusantara.

Gandeng Gendong adalah perwujudan filosofi gotong royong berbagai elemen masyarakat yang terbagi menjadi 5 K: Kota, Kampung, Kampus, Komunitas dan Korporat. Khususnya bagi Jogja, elemen ini ditambah dengan satu lagi elemen yang sakral yaitu Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Program Gandeng Gendong diperkenalkan pada elemen masyarakat lainnya. Pada elemen Kampung, 14 Kecamatan di Kota Yogyakarta bergabung dan terlibat langsung di beberapa rangkaian acara, seperti pembuatan Jenang Khas Kota Yogyakarta yang diberi nama Jenang Golong Gilig, yang akan dilaunching dalam acara Jogja Cross Culture.

Keterlibatan lain dari perwakilan wilayah ini ada pula pada aktivitas yang mengedepankan edukasi sejarah, bukan saja melalui kuliner lewat Festival Jamu dan Kuliner (JAMFEST) dan Jenang Golong Gilig, tapi juga dikemas dalam tajuk Historical Trail Njeron Benteng. Aktivitas yang terbuka untuk umum ini mengajak pesertanya menyusuri tempat-tempat bersejarah Njeron Benteng.

Lintas budaya secara era juga dipresentasikan pada tanggal 3 Agustus 2019 dalam penampilan Wayang Kota. Ini merupakan kolaborasi Wayang Ukur yang diperkenalkan oleh Maestro Wayang Sigit Sukasman dengan lima dalang generasi milenial. Pada kesempatan ini, mereka akan menampilkan lakon Kancing Jaya.

Jogja Cross Culture 2019
Jogja Cross Culture 2019

Program Jogja Budaya sejak awal dikonsep menjadi gerakan budaya di seluruh elemen masyarakat. Dalam membidani program ini, kesadaran yang terbentuk bahwa budaya bukanlah sebuah komoditas. Budaya adalah sebuah cara hidup yang tumbuh dan berkembang pada sebuah kelompok dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Titik tekan program ini adalah bagaimana budaya itu hidup dan menghidupi. Gerakan pembinaan dan penguatan budaya di kelompok-kelompok inilah yang sebenarnya menjadi focal point.

“Istimewanya lagi, di Jogja terjadi saling silang budaya sejak awal berdirinya Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat dan semuanya mampu berkembang dan bersanding. Inilah kemudian menciptakan sebuah melting pot budaya dalam satu kota. Tepat kiranya, Jogja menjadi bagian dari Kota Budaya Dunia,” ujar RM Altiyanto Henryawan, Program Director Jogja Cross Culture.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Jogja Cross Culture Menyulap Titik Kilometer 0 Menjadi Ajang Festival Jamu

Sun Aug 4 , 2019
Kehebohan meliputi Titik Kilometer O Yogyakarta Sabtu sore (03/08) sejak pukul 15:00 WIB dengan ditandai oleh mulai dibukanya stan-stan Festival Jamu dan Kuliner (Jamfest) dan diakhiri pertunjukkan Wayang Kota, sebagai rangkaian pelaksanaan acara Jogja Cross Culture hari pertama. JAMFEST atau Festival Jamu yang digelar di utara Monumen Serangan Oemum 1 […]
Festival Jamu dan Kuliner (Jamfest) di Jogja Cross Culture